Selasa, 15 Maret 2016

Jurnal Tabung

0

Ini merupakan jurnal mengenai materi tabung, jurnal ini dibuat oleh Mariana Ruwi Dwi A dan Fitriana Yuli S pada tahun 2012 dan merupakan edisi keempat 
klik disini

0

Talenta yang Menyelamatkan
Oleh : Garry Ariel Cussoy

Siang itu, teriknya mentari sangat menyengat kulit. Dengan perlengkapan seadanya, Andre, seorang pemuda berumur 17 tahun, pergi ke hutan yang berada kurang lebih 8 km dari rumahnya untuk mencari kayu hutan. Kayu-kayu ini nantinya akan dijual kepada tukang-tukang pengrajin kayu. Sudah setiap hari, ia melakukan pekerjaan ini untuk mencari nafkah bagi keluarganya, meskipun pendapatannya tidak sebanding dengan perjuangannya.  Maklum, karena ia adalah anak tunggal di keluarganya dan ayahnya telah meninggal sejak usianya masih kanak-kanak. Ibunya pun saat ini menderita radang usus buntu semenjak  setahun terakhir, sehingga Andre harus berjuang untuk mencari biaya pengobatan ibunya. Andre pun menjadi tulang punggung bagi keluarganya.  Karena keadaannya saat ini, Andre juga harus rela meninggalkan bangku sekolahnya saat ia beranjak naik ke kelas 12.
            Disekolahnya dulu, Andre terkenal sebagai murid yang pintar, khususnya pada bidang pelajaran matematika. Ia sering meraih peringkat 3 besar di kelasnya. Selain itu, ia juga sering mengikuti kegiatan dan lomba matematika antarsekolah. Tak heran, banyak piala, sertifikat, dan sebagainya tersimpan dirumahnya.
            Meski demikian, seolah-olah sekolah tak melihat segudang prestasinya itu. Karena kondisi keuangan, Andre pun mau tak mau harus tetap meninggalkan bangku sekolah. Namun Andre masih tetap dapat bersyukur, karena meski ia tak sekolah, ia masih memiliki teman-teman yang setia menolong dia dalam berbagai masalah. Baik suka maupun duka.
            Hari pun semakin sore. Matahari sudah mulai tenggelam perlahan. Dengan sisa tenaganya hari itu, Andre bergegas pergi ke tempat penjualan kayu dan kemudian pulang kerumahnya yang berada di sebuah desa kecil. Desa itu hanya terdiri dari beberapa keluarga yang sangat sedikit jumlahnya. Masing-masing keluarga itu tinggal di rumah-rumah yang minimalis, bahkan bisa dibilang tak layak dihuni. Setiap rumah di desa itu berjarak cukup jauh antara satu dengan yang lainnya.
            Sesampainya dirumah, Andre segera mandi dan menyiapkan makanan untuk ia dan ibunya, yang saat itu sedang beristirahat dikamar. Dengan bahan makanan dan peralatan seadanya, Andre mulai memasak. Selesai memasak, Andre pun membangunkan ibunya untuk makan.
            “Oh nak, kamu sudah pulang?” Tanya ibunya Andre.
            “Iya bu. Saya juga sudah buatkan makanan. Ayo kita makan dulu, agar ibu bisa minum obat dan kembali beristirahat.”
            “Baiklah, terima kasih ya nak.”
            Mereka segera menikmati makanan yang sudah tersedia. Hari yang sudah semakin malam, mebuat suasana saat itu menjadi hening. Suara jangkrik mulai terdengar semakin keras, yang mebuat kesan tersendiri malam itu. Segera setelah mereka makan, mereka beristirahat. Hari itupun berlalu.
            Fajar pagi menyingsing. Menandai aktivitas di hari yang baru segera dimulai. Andre menyiapkan makan untuk sarapan, seperti pada hari-hari yang lain. Ketika Andre dan ibunya makan pagi itu, 2 sahabat Andre, Bima dan Coki datang menghampiri rumahnya dengan membawa selembar kertas koran. Andre segera membukakan pintu.
            “Oh hai. Ada apa pagi-pagi begini sudah mampir kerumah ku?” Tanya Andre.
            “Ini Ndre, ada kabar bagus. Coba lihat!” Jawab Bima, sambil menunjukkan koran yang ia pegang.
            “Apa ini?” Tanya Andre penasaran, sambil membaca koran yang diberikan kepadanya. “Oh, ada lomba matematika ya?”
            “Iya, kamu kan suka banget sama pelajaran matematika. Udah gitu jago lagi. Dan kebetulan kami menemukan koran ini. Pas kami liat, ternyata ada berita tentang lomba matematika yang terbuka untuk siapa saja se-Jawa Barat dengan batas umur dari 15-18 tahun. Jadi ya kami kasitau aja ke kamu.” Jawab Coki.
            “Hadiahnya pun lumayan banget kan kalau kamu bisa menang. Bisa bantu kamu untuk tolong ibu kamu berobat. Hanya sekali kompetisi dan hadiahnya langsung didapat hari itu juga. Waktunya masih sebulan lagi, jadi masih banyak waktu untuk siapin.  Aku yakin, kamu pasti bisa.” Sahut Bima.
            “Wah, makasih ya untuk info dan semangatnya. Aku akan coba deh. Sekali lagi makasih ya!” Balas Andre dengan hati yang sangat senang.
            “Iya, sama-sama Ndre. Berjuang ya! Goodluck! Kami akan selalu berdoa buat kamu.” Sahut Bima menyemangati Andre.
            Kedua sahabatnya kemudian pulang. Andre segera masuk kerumah dan memberitaukan kepada ibunya. Ibunya Andre juga merasa sangat senang, dan mendukung putra tunggalnya itu untuk mengikuti kompetisi itu.
            Semenjak hari itu, Andre mulai mempersiapkan segala materi yang akan dilombakan nantinya. Ia belajar dengan tekun menggunakan buku olimpiade nya yang sudah berdebu, karena sudah lama tak ia buka. Dengan penuh semangat, setiap harinya ia belajar hingga larut malam. Tak lupa, segala usahanya dibarengi dengan doa.  Ditengah kesibukannya menyiapkan lomba itu, ia juga tak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga.
            Hari-haripun berlalu. Waktu terasa berjalan begitu cepat bagi Andre, karena ia melewati hari-harinya dengan penuh semangat. Ia berpikir, mungkin inilah jalan keluar yang Tuhan berikan akan masalahnya. Sehingga ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan berharga itu.
            Dan sampailah pada hari perlombaan itu. Pagi itu, Andre bangun sedikit lebih awal dari biasanya karena waktu perlombaan cukup pagi, dan tempatnya sangat jauh. Andre segera mandi, dan menyiapkan makanan. Karena sudah terbiasa makan bersama, Andre pun berniat membangunkan ibunya untuk makan bersama.
            Namun suatu hal yang mengejutkan terjadi. Pagi itu, ibunya tak sadarkan diri. Keadaanya sudah sangat lemah, dan harus segera mendapat pertolongan medis. Seketika itu juga, segala yang ada di pikirannya buyar. Perlombaan matematika yang sudah lama ia tunggu-tunggu, seketika itu juga lenyap dari pikirannya. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Air matanya pun tak kuat lagi ia tahan untuk terjatuh. Dan akhirnya, iapun segera pergi menuju rumah seorang dokter di desa itu, yaitu Bu Desi.
            Saat Andre membuka pintu rumahnya untuk pergi, ia terkejut melihat kedua sahabatnya berada di depan rumah. Bima dan Coki berniat untuk memberi semangat kepada Andre. Namun karena melihat raut muka Andre, dan juga tangisannya, mereka menjadi bingung.
            “Hai Andre. Ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanya Bima pada Andre.
            “Ibuku Bim.” Jawabnya sambil menangis.
            “Kenapa dengan ibumu?” Tanya Bima lagi.
            “Iya, ada apa Ndre?” Tambah Coki.
            “Ibuku, ibuku tak sadarkan diri. Keadaanya juga sangat lemah dan demamnya sangat tinggi. Sekarang, aku mau pergi memanggil Bu Desi. ” Jawab Andre.
            “Oke baiklah, biarkan kami berdua yang pergi memanggil Bu Desi. Kamu tunggu saja dulu disini. Kami akan segera kembali.” Respon Coki.
            “Baiklah. Terimakasih sahabat-sahabatku!”
            Bima dan Coki segera pergi menuju rumah Bu Desi. Rumahnya tak terlalu jauh dari rumah Andre. Sementara itu, Andre kembali masuk kerumahnya, dan menjaga ibunya yang terbaring lemah. Cucuran air mata Andre terlihat semakin deras. Semakin terlihat kebingungan pada raut wajahnya. Ia hanya bisa berpasrah dan berdoa, berharap ibunya akan tetap baik-baik saja.
            Setelah kurang lebih 10 menit, Bu Desi pun sampai di rumah Andre bersama dengan Bima dan Coki. Dengan sigap, Bu Desi memeriksa keadaan ibu Andre.
            “Bagaimana bu keadaan ibu saya?” Tanya Andre yang mencoba untuk tegar.
            Dengan muka yang cemas Bu Desi menjawab, “Maaf ya Ndre. Tapi sepertinya, ibu kamu harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk segera melakukan operasi usus buntunya. Karena kondisinya sudah semakin parah. Kalau dibiarkan, usus buntunya dapat pecah. Namun sayangnya, peralatan di desa ini tidaklah memadai.”
            Tanpa pikir panjang saat itu, Andre mengambil keputusan untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Bu Desi dan kedua sahabat Andre pun dengan segera menolong Andre untuk membawa ibunya ke rumah sakit terdekat. Meskipun rumah sakit terdekat itu berjarak kurang lebih 15 km.
            Dengan meminjam sebuah mobil milik kepala desa, satu-satunya mobil yang ada di desa itu, mereka segera berangkat menuju rumah sakit. Kepala desapun ikut beserta mereka. Pikiran Andre saat itu tak karuan. Ia khawatir akan biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan ibunya. Namun kedua sahabatnya berusaha menenangkannya.
            Dan akhirnya, sampailah mereka di rumah sakit. Bu Desi dan yang lain segera turun dari mobil dan memanggil suster yang bertugas untuk segera membawa ibunya Andre masuk kedalam rumah sakit dan segera mendapatkan pertolongan. Namun Andre hanya duduk menemani ibunya di mobil.
            Tak lama setelah suster itu datang, dibawalah ibunya Andre ke ruang UGD. Andre dan yang lainnya pun mengikuti suster tersebut, namun hanya sampai didepan ruang UGD. Karena hanya pasien dan tim medisnya saja yang boleh masuk. 
            Andre hanya duduk diam saja saat itu tanpa sepatah katapun, sambil menunggu perkembangan kondisi selanjutnya. Tak lama, seorang dokter yang menangani ibunya Andre keluar dari ruang UGD.
            “Bagaimana dok ibu saya?” Tanya Andre
            “Maaf. Ibu anda harus segera dioperasi. Karena kondisinya sudah semakin memburuk. Dan biaya untuk melakukan operasi ini sebesar 10 juta rupiah.”
            Seketika itu, air mata Andre mengalir semakin deras tak terbendung. Teman-temannya hanya diam dan mendekatinya sambil mengelus pundaknya. Percakapan pun terhenti.
            “Maaf dok, tapi saat ini kami hanya ada uang sebesar 3 juta rupiah. Bisakah operasi ini dilaksanakan segera? Kami berjanji akan segera melunasinya.” Tanya Bu Desi pada dokter untuk mengambil alih percakapan yang saat itu sempat terputus.
            “Maaf bu, tapi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di rumah sakit ini, seminimalnya sudah harus ada 80% dari keseluruhan biaya.”
            “Apakah tidak ada keringanan dok?”
            “Maaf bu, tapi saya hanya menjalankan ketentuan yang ada.”
            Mereka semua bingung mencari solusinya. Bagaimanakah cara mencari 5 juta rupiah dalam waktu yang singkat? Disaat mereka mengira harapan sudah tak ada, muncullah sebuah titik terang.
            “Andre! Aku tau. Masih ada harapan. Lomba matematika itu.” Sahut Bima, memecah keheningan saat itu.
            “Iya benar, lomba itu! Kita bisa mendapatkan uang 5 juta rupiah!” Tambah Coki.
            Lomba matematika yang sempat terlupakan oleh Andre, kini kembali muncul dipikirannya. Dan dengan lomba itu, harapan kembali muncul. Semangat pada diri Andre bertahap mulai kembali. Ia melihat, sebuah peluang besar masih ada.
            Ditengah kondisinya, Andre memutuskan untuk mencoba mengikuti kompetisi itu. Ia melihat jam yang tergantung ditembok rumah sakit, dan ternyata waktunya masih bisa untuk mengikuti lomba itu.
            “Ya kalian benar. Masih ada harapan! Kalau begitu, akan aku coba.”  
            Mendengar hal itu, kepala desa segera berinisiatif untuk mengantar Andre menuju tempat perlombaan yang berada di sebuah universitas ternama di kota tersebut. Sementara Bima, Coki, dan Bu Desi menunggu di rumah sakit.
            Segeralah Andre dan kepala desa berangkat. Dengan kecepatan penuh, sang kepala desa mengemudikan mobilnya. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit.
            Setibanya disana Andre segera berlari dan mendaftarkan dirinya. Dengan uang 50 ribu dikantongnya, hasil tabungannya selama sebulan, ia menggunakannya sebagai uang pendaftaran. Sementara itu, kepala desa menunggu Andre di mobilnya.
             5 menit berselang, terdengar pengumuman yang mengaharuskan setiap peserta lomba memasuki ruangan masing-masing untuk mendapatkan pengarahan. Andre pun bergerak menuju ruangannya, yaitu ruang 15. Ruangan ini khusus untuk peserta yang baru medaftar secara langsung ditempat tersebut.
            Pengawas ruangan pun datang, kemudian membagikan lembar pengisian jawaban kepada peserta. Setelah itu, pengawas membacakan aturan-aturan dari perlombaan tersebut. Selagi aturan dibaca, peserta mengisi biodata diri pada lembar jawaban yang telah dibagikan.
            Selesai dibacakan, pengawas membagikan 5 lembar kertas soal yang berisikan 50 butir soal pilihan ganda. Tak lama, bel tanda perlombaan dimulai berbunyi. Sebelum Andre mengerjakan, ia pun berdoa sejenak. Segera setelah berdoa, Andre membuka kertas soal, dan mulai mengerjakan. Waktu yang tesedia 150 menit.
            Perlahan, semangatnya kembali meningkat. Konsentrasinya kembali terkumpul. “Tunggu aku bu! Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membayar biaya pengobatan ibu. Sehingga ibu bisa segera dioperasi dan kembali sembuh!” Pikirnya dalam hatinya. Inilah salah satu yang memotivasinya saat itu untuk terus berjuang dan mendapatkan peringkat satu pada perlombaan tersebut.
            Waktu terus berjalan. Soal demi soal pun mulai terjawab. Pikirannya pun semakin jernih dari waktu ke waktu.
 Tanpa terasa, waktu sudah hampir habis. Lembar jawaban Andre terlihat sudah hampir penuh. Empat puluh tujuh soal sudah ia jawab. 
Dan akhirnya, bel kembali berbunyi. Kali ini menandakan berakhirnya perlombaan. Pengawas beranjak dari tempat duduknya, dan mengambil semua lembar jawaban yang ada pada meja peserta. Ada yang menjawab 20 soal, 30 soal, 40 soal, namun terlihat, bahwa Andre lah yang menjawab soal terbanyak. Meski demikian, nilai ditentukan bukan berdasarkan banyaknya soal yang dijawab. Sistem penilaian berdasarkan pada poin terbesar dengan ketentuan menjawab benar mendapat poin 4, salah -1, dan dikosongkan 0.
Panitia perlombaan pun segera memberitaukan kepada seluruh peserta untuk menunggu selama 1 jam, sampai hasil pekerjaan peserta selesai diperiksa. Saat itulah, saat yang paling mendebarkan dalam hidup Andre. Ia merasa sangat tegang, takut, dan cemas akan hasilnya. Karena hasil inilah yang akan menentukan apakah proses pengobatan ibunya berjalan atau tidak.
Di tempat lain, Bima, Coki, dan Bu Desi pun merasa sangat khawatir. Kepala desa yang menunggu di mobil juga merasa demikian. Mereka terus berdoa, agar Andre dapat memberikan hasil yang terbaik. Dan mereka yakin bahwa Andre mampu, Andre pasti bisa.
Masa penantian pun berlalu. Setiap peserta diharuskan memasukki aula universitas tersebut untuk mendengarkan hasil kompetisi. Disana berkumpul 321 peserta. Hati Andre berdebar-debar. Ia benar-benar memerhatikan setiap kalimat yang diucapkan oleh panitia. Sambil berdoa dalam hati dan berharap, namanya akan disebutkan.
Dan hasil pun mulai dibacakan. Dimulai dari peringkat ketiga, kedua, dan baru peringkat pertama.
“Ya, dan berikut ini, nama-nama peserta yang meraih peringkat tiga besar pada kompetisi matematika se-Jawa Barat tahun 2012.” Ucap panitia.
Peringkat ketiga pun dibacakan. Dan nama Andre tak disebut. Kemudian peringkat kedua dibacakan, dan lagi, namanya tak disebut. Dan sampailah pada pengumuman peringkat pertama. Saat-saat yang benar-benar menentukan.
“Dan, yang meraih peringkat pertama dengan nilai 153 adalah … “ Kata panitia dengan penuh semangat yang kemudian memberikan jeda sekitar 30 detik sebelum dilanjutkan. “Selamat kepada Andre Widiasmoro! Kepada Andre, dipersilahkan untuk maju kedepan!”
Senang, bangga, semua perasaan Andre bercampur jadi satu saat itu. Tak ia sangka, namanya akhirnya disebutkan. Harapan dan doanya terjawab seketika itu. Ia benar-benar sangat bersyukur. Dan dengan langkah yang tegap, ia segera maju mendekati panitia yang baru saja mengumumkan hasilnya.
Dari hasil ini, Andre mendapatkan sebuah sertifikat, piala, dan uang tunai senilai 5 juta rupiah. Uang yang sangat ia butuhkan, akhirnya dapat ia genggam.
Setelah selesai, Andre segera berlari menuju mobil kepala desa. Ketika masuk ke mobil sambil membawa piala, kepala desa langsung mengerti bahwa Andre telah berhasil. Ia pun turut bergembira atas kemenangan itu.
Tanpa menunggu, kepala desa mulai mengemudikan mobilnya sampai kecepatan maksimal menuju rumah sakit. “Aku datang bu! Aku membawa uang untuk biaya operasi ibu! Ibu bertahan ya, aku akan segera sampai. Aku sayang ibu!” Pikirnya dalam hati, sementara matanya berlinangan air mata.
Sesampainya disana, Bima dan Coki segera menghampiri Andre. Mereka bertanya akan hasil dari kompetisi tersebut. Dan setelah mereka mengetahui hasilnya, mereka menepuk pundak Andre, dan menyalaminya.
Tanpa berlama-lama, Andre dan yang lain menuju ruang administrasi. Mereka membayarkan sejumlah uang yang diperlukan untuk melakukan operasi.
Operasi pun akhirnya dimulai. Andre memasrahkan semuanya pada Tuhan. Dan tetap berharap, ibunya akan baik-baik saja.
Operasi berlangsung kurang lebih 3 jam.  Sampai akhirnya, seorang dokter yang mengoperasi keluar dari ruang operasi, dan memberitakan sebuah kabar sukacita.
“Andre Widiasmoro?” Tanya sang dokter dengan muka yang terarah pada Andre.
“Iya benar. Bagaimana dok kondisi ibu saya?”
“Kamu patut bersyukur. Karena waktu operasi berlangsung tepat waktu. Sehingga saat ini, ibu kamu dalam keadaan yang sudah stabil. Karena, jika waktu operasi tadi terlambat hitungan menit saja, mungkin ibu kamu tidak tertolong.”
Betapa senang hatinya, ketika mendengar bahwa ibunya sudah baik-baik saja. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Telah terjadi hal yang luar biasa hari itu dalam hidup Andre.
“Besok, ibu kamu sudah diperbolehkan untuk kembali kerumah. Sekarang ibu kamu masih belum sadarkan diri. Namun jangan khawatir, ibu kamu akan segera sadarkan diri. Sekarang, kamu diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan ibu kamu.” Kata sang dokter.
Andre segera masuk, sementara yang lain tetap diluar. Ia melihat kondisi ibunya, yang saat itu sedang terbaring lemah di kasur. Andre pun menunggu didekat ibunya. “Ibu baik-baik saja kan? Saat ini aku ada disini. Ada didekat ibu untuk menjaga ibu.” Katanya dalam hati.
Hari semakin sore, dan Andre memutuskan untuk menunggu ibunya dirumah sakit. Sedangkan kepala desa, Bu Desi, dan kedua teman Andre pulang kerumah.
Sekitar pukul 8 malam, ibunya Andre mulai membuka matanya. Sedikit demi sedikit, ia mulai sadarkan diri. “Andre? Andre? Dimana kamu?” Itulah pertanyaan pertama yang dikatakan oleh ibunya Andre. Andre yang saat itu sedang tertidur didekatnya terbangun. Andre pun segera menjawab, “Ibu! Andre disini! Syukurlah ibu sudah sadar!”
Kebahagiaan Andre meluap seketika. Betapa senang ia melihat ibunya sudah sadarkan diri. Andre mengungkapkan semuanya itu dengan bercakap-cakap dengan ibunya.
Keesokan harinya, kepala desa dan kedua temannya Andre kembali ke rumah sakit untuk menjenguk dan mengantarkan Andre dan ibunya pulang kembali kerumah. Selain itu, kepala desa juga membawa sejumlah uang tambahan hasil dari sumbangan warganya, untuk biaya rumah sakit sebesar 2 juta rupiah.
Keadaan ibunya Andre semakin hari berangsur-angsur membaik. Dan semenjak saat itu, Andre semakin meningkatkan kemampuan matematika yang ia miliki. Ia bersyukur dengan talentanya itu. Karena talenta pemberian Tuhan itulah, Andre bisa mendapatkan uang 5 juta rupiah untuk membiayai pengobatan ibunya.
Tak lama setelah itu, Andre juga mendapat pekerjaan baru. Ia menjadi seorang guru di salah satu SMA ternama di Jawa Barat. Selain itu, ia juga menjadi pelatih olimpiade matematika SMA nasional, yang mempersiapkan bakat-bakat matematika anak bangsa pada ajang International Mathematic Olympiad.

0

Kenangan Bersama Matematika
Oleh : Ivan Fadillah (SMP)

Aku tinggal bersama ayahku. Ibuku pergi meninggalkan kami, sejak aku berumur 5 tahun , ia pergi karena ayah ku hidup miskin. Setelah 9 tahun kemudian, aku mungkin sudah lupa raut wajah ibuku. Hidupku hari-hari penuh penderitaan.
Aku mungkin anak yang paling menderita mengapa aku benci kamu. Kau lah penyebab aku dimarahi ayah ku. mengapa aku ditakdirkan bodoh dalam hal ini atau karena aku yang malas untuk mempelajarinya, yang pasti matematika adalah musuh terberatku di sekolah yang sulit di musnahkan.
Sering aku berfikir mengapa ada pelajaran ini. Setiap aku pulang sekolah otak ku slalu di penuhi dengan angka-angka. Arggg…. Sangat membosankan. Kau lah matematika yang sangat ku benci. . . setiap hari kerjaan ku hanya main dan bermain, Siang, malam maupun pagi. Aduh besok ulangan matika dah jam berapa ini? HAahh dah jam 10 aku gak sempat belajar… aku terkejut dan tak lama kemudian aku memejamkan mataku.
aku bangun jam 06.30 dan bergegas pergi sekolah “Krek….krek….”Tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang sekolah yang mau di tutup… Tunggu…(aku berteriak kencang). Habib mengapa kamu selalu telat??? Kamu gak tau masuk sekolah jam berapa???(pak sapam marah2) Ia maaf pak tadi kesiangan. Dah buruan masuk…  aku berlari masuk kelasku ternyata aku belum terlambat ulangan…. Alhamdulillah…. Setelah pakkoko membagikan soal ulangan aku terkejut aku belajar ini semua. Aduh gimana ni.. tidak ada soal yang bisa ku jawab … akhirnya aku nyontek dengan teman sebangku ku ia pintar dan bisanya pelit tapi ini baek ntah knapa…
Sampai dirumah aku masuk kamar dan segara tidur. Tiba-tiba ayah ku masuk.. “habib ! Ayah dengar dari Pak koko nilai matematikamu turun drastis, benar begitu habib?" ia yah !  “Aku menjawab dengan sedikit rasa takut. Kenapa gitu habib???  terus terang ayah malu pada Pak koko dengan nilai-nilai matematikamu yang tidak pernah membuahkan hasil yang baik, padahal nilai-nilai pelajaran lainnya ayah rasa sudah cukup baik, bahkan cenderung memuaskan.  “Maafin habib Ayah, habib janji mau belajar lebih giat lagi, dan habib pasti bisa menaklukkan matematika, “ok … lah hari minggu nanti kamu ikut berdagang dengan ayah…
Aku tidur pulas melepaskan semua pikiranku. Hari minggu ayah janji mengajakku berdagang di pasar. Dan hari itu sudah menyiapkan semuanya dan segera pergi. Sampai disana banyak sekali orangnya. Diasana ayah ku mengajariku untuk membayar dan mengembalikan uang kembalian, bahkan kuntungan dan kerugian yang di dapatkan. Ayah ku mengajarinya  Dengan penuh semangat dan cucuran keringat yang melimpah… aku salut dengan ayahku… Setiap minggu aku slalu diajarinya matematika. Dari situlah aku mulai mencintai MATEMATIKA…
Beberapa bulan telah berlalu ketika aku pulang berdagang kami menyebrangi pasar besar. Tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju kencang dan menabrak ayah ku yang berada di depan gerobak… aku gak bisa berbuat apa-apa aku yang berada di belakang gerobak jualan nyawaku masih di selamatkan. Darah ayah ku bercucuran kencang jalannan penuh darah. Disana aku mulai panik dan berteriak TAOLONGG-TOLOONG air mataku selalu menetes… Puluhan orang datang menolong ayahku sebelum ia menghembuskan nafas terakhir ia berpesan kepadaku “rajin-rajin lah belajar matematika walaupun tanpa ayah, ayah yakin kamu pasti bisa dan dapat membanggakan ayah :’) “ dan ayah ku memejamkan matanya perlaha-lahan. Aku gak bisa buat apa-apa. Setelah ayah ku tiada aku tinggal bersama saudara ku. Adik dari ayahku. Aku bangun pagi-pagi sebelum aku berangkat sekolah aku biasanya membantu ibu ani. Di sekolah aku melihat pengumuman tentang lomba cepat-tepat matematika. Awalnya aku bimbang bingung kalaw ikut takut ditertawakan karna kebodohanku. Namun aku percaya diri dan segera mingikutinya karna ingat pesan terakhir ayah. Saat mendaftar teman seisi kelas menertawakanku namun aku tidak peduli. Saat pulang sekolah aku selalu belajar matematika sendirian untuk persiapan lomba. Sejak itu aku mulai mengerti deretan rumus yang tertulis rapi dibuku. Hari-hari kulalui dengan penuh perjuangan, Sejak saat itu aku harus berjuang sendirian.  Tak terasa kalau besok lombanya aka di mulai. 05.30 kulihat jam bekerku. Mataku masih terasa sangat berat untuk kubuka, semalam aku baru tidur jam setengah 12. Untuk belajar matematika. Sambil menyiapkan serapa otakku selalu belumuri matematika… “Ibu ani aku berangkat dulu ya !” Aku berlari menuju garasi. Sampai disekolah semangatku hilang melihat teman teman ku latihan soal yang jago dan cepat menjawabnya… Namun terlintas sejenak pesan ayahku untuk membuat bangga orang tuaku dan untuk masa depanku nanti. Semangatku semakin bertambah. Aku yakin aku bisa. Saat lomba di mulai perasaanku tak karuan, jantungku berdetak sangat kencang. Ada sebuah ketakutan dalam diriku. Beribu tanya memenuhi pikiranku. Apakah aku bisa? satu-persatu soal diluncurkan dengan mudahnya aku menjawab rumus-rumus cepat matematika yang diberikan ayahku ternyata sangat membantu… hatiku sangat senang tak terasa soal terakhir telah dilucurkan namun devi yang menjawab soal terakhir… tapi tak apa poinku masih lebih tinggi dari dia… saat juri megatakan “soal habiss” aku sangat senang. Aku berharap ini bukan mimpi dan memang bukan mimpi. Aku merasa seneng banget karena aku bisa membangkan orag tua walau kini mereka telah tiada… aku mataku berlinang kesenangan sambil memeluk temanku… semua guru memberikan selamat pada diriku. Pak koko pun bangga melihat perubahanku pada bidang matematika ini . . .
Oh tuhan… terimakasih karna kau sudah mengabulkan doa dan impianku…
Dari sinilah aku menyadari bahwa matematika tak sesulit yang ku bayangkan.
I LOVE MATH

Rumah Segi Empat

0

RUMAH SEGI EMPAT

Di suatu simpang empat
Di pemukiman yang rapat
Terdapat sebuah rumah segi empat
Pintu dan jendelanya berwarna coklat

Di halaman trapesium hijau nan luas
Tumbuh lingkaran tanaman hias
Ada juga tanaman pisang, rambutan, dan nanas
Diameter kebahagiaan terukir di sebuah senyuman puas

Dalam rumah sederhana segi empat
Terdapat kamar bujur sangkar sebanyak empat
Keliling kamarku tambahkan setiap sisinya yang berjumlah empat
Luas kamarku adalah hasil dari sisi kuadrat

Genting tanah liat menghiasi atap rumahku
Tampak bangunan segitiga dari depan rumahku
Keliling segitiga tambahkan setiap sisi atap rumahku
Luas segitiga alas kali tinggi dibagi dua sisi atap rumahku

Terdapat sebuah lukisan pemandangan yang terpajang
Di rung tamuku yang berbentuk persegi panjang
Bila ditambahkan setiap sisi kita dapatkan keliling persegi panjang
Luas persegi panjang hasil perkalian lebar dan panjang

Wahai kawan akulah penghuni rumah segi empat
Aku ingin belajar dengan cermat dan giat
Agar memperoleh ilmu yang bermanfaat
Dan menjadi orang berguna di masyarakat


Oleh : MUTIARA HIKMAH KELAS IV-A SD NEGERI 08 TALANG JAWA TANJUNG ENIM

Rabu, 06 Mei 2015

Mengenal Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī Matematikawan Islam

0


Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī  adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografiyang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad.

Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika dia, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan GeografiPtolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.
Kontribusi dia tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku dia. Kata algorisme dan algoritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama dia. Nama dia juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalambahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.
Sedikit yang dapat diketahui dari hidup dia, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama dia mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar dia adalah Abū ‘Abdu llāh atau Abū Ja’far.
Sejarawan al-Tabari menamakan dia Muhammad bin Musa al-Khwārizmī al-Majousi al-Katarbali). Sebutan al-Qutrubbulli mengindikasikan dia berasal dari Qutrubbull, kota kecil dekat Baghdad.
Tentang agama al-Khawārizmī', Toomer menulis:
Sebutan lain untuk dia diberikan oleh al-Ṭabarī, "al-Majūsī," ini mengindikasikan ia adalah pengikut Zoroaster.Ini mungkin terjadi pada orang yang berasal dari Iran. Tetapi, kemudian buku Al-Jabar dia menunujukkan dia adalah seorang Muslim Ortodok,jadi sebutan Al-Tabari ditujukan pada saat ia muda, ia beragama Majusi.
Dalam Kitāb al-Fihrist Ibnu al-Nadim, kita temukan sejarah singkat dia, bersama dengan karya-karya tulis dia. Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara 813-833. setelah Islam masuk ke Persia, Baghdad menjadi pusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India berkelana ke kota ini, yang juga dilakukan dia. Dia bekerja di Baghdad pada Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Bani Abbasiyah Al-Ma'mun, tempat ia belajar ilmu alam dan matematika, termasuk mempelajari terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.
Karya terbesar dia dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang dia tekuni. Pendekatan logika dan sistematis dia dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku dia pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa'l-muqabala atau: "Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan”, buku pertama dia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.
Pada buku dia, Kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku dia diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin.
Beberapa kontribusi dia berdasar pada Astronomi Persia dan Babilonia, angka India, dan sumber-sumber Yunani.
Sistemasi dan koreksi dia terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur –Tengah. Buku besar dia yang lain, Kitab surat al-ard("Pemandangan Bumi";diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus.
Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.
Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala atau Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan) adalah buku matematika yang ditulis pada tahun 830. Kitab ini merangkum definisi aljabar. Terjemahan ke dalam bahasa Latin dikenal sebagai Liber algebrae et almucabala oleh Robert dari Chester (Segovia, 1145) dan juga oleh Gerardus dari Cremona.
Dalam kitab tersebut diberikan penyelesaian persamaan linear dan kuadrat dengan menyederhanakan persamaan menjadi salah satu dari enam bentuk standar (di sini b dan cadalah bilangan bulat positif)
  • kuadrat sama dengan akar (ax2 = bx)
  • kuadrat sama dengan bilangan konstanta (ax2 = c)
  • akar sama dengan konstanta (bx = c)
  • kuadrat dan akar sama dengan konstanta (ax2 + bx = c)
  • kuadrat dan konstanta sama dengan akar (ax2 + c = bx)
  • konstanta dan akar sama dengan kuadrat (bx + c = ax2)
dengan membagi koefisien dari kuadrat dan menggunakan dua operasi: al-jabr  atau pemulihan atau pelengkapan) dan al-muqābala (penyetimbangan). Al-jabr adalah proses memindahkan unit negatif, akar dan kuadrat dari notasi dengan menggunakan nilai yang sama di kedua sisi. Contohnya, x2 = 40x - 4x2 disederhanakan menjadi 5x2 =40x. Al-muqābala adalah proses memberikan kuantitas dari tipe yang sama ke sisi notasi. Contohnya, x2 + 14 = x + 5 disederhanakan ke x2 + 9 = x.
Beberapa pengarang telah menerbitkan tulisan dengan nama Kitāb al-ǧabr wa-l-muqābala, termasuk Abū Ḥanīfa al-Dīnawarī, Abū Kāmil (Rasāla fi al-ǧabr wa-al-muqābala),Abū Muḥammad al-‘Adlī, Abū Yūsuf al-Miṣṣīṣī, Ibnu Turk, Sind bin ‘Alī, Sahl bin Bišr, dan Šarafaddīn al-Ṭūsī.

Buku kedua besar dia adalah tentang aritmatika, yang bertahan dalam Bahasa Latin, tapi hilang dari Bahasa Arab yang aslinya. Translasi dilakukan pada abad ke-12 oleh Adelard of Bath, yang juga menerjemahkan tabel astronomi pada 1126.
Pada manuskrip Latin,biasanya tak bernama,tetapi umumnya dimulai dengan kata: Dixit algorizmi ("Seperti kata al-Khawārizmī"), atau Algoritmi de numero Indorum ("al-Kahwārizmī pada angka kesenian Hindu"), sebuah nama baru di berikan pada hasil kerja dia oleh Baldassarre Boncompagni pada 1857. Kitab aslinya mungkin bernama Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind ("Buku Penjumlahan dan Pengurangan berdasarkan Kalkulasi Hindu").

Buku ketiga dia yang terkenal adalah Kitāb ṣūrat al-Arḍ "Buku Pemandangan Dunia" atau "Kenampakan Bumi" diterjemahkan oleh Geography), yang selesai pada 833 adalah revisi dan penyempurnaan Geografi Ptolemeus, terdiri dari daftar 2402 koordinat dari kota-kota dan tempat geografis lainnya mengikuti perkembangan umum.
Hanya ada satu kopi dari Kitāb ṣūrat al-Arḍ, yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg. Terjemahan Latinnya tersimpan di Biblioteca Nacional de España di Madrid. Judul lengkap buku dia adalah Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai, ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi berdasarkan pendalaman geografis yamg ditulis oleh Ptolemeus dan Claudius.
Buku ini dimulai dengan daftar bujur dan lintang, termasuk “Zona Cuaca”, yang menulis pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca. Oleh Paul Gallez, dikatakan bahwa ini sangat bermanfaat untuk menentukan posisi kita dalam kondisi yang buruk untuk membuat pendekatan praktis. Baik dalam salinan Arab maupun Latin, tak ada yang tertinggal dari buku ini. Oleh karena itu, Hubert Daunicht merekonstruksi kembali peta tersebut dari daftar koordinat. Ia berusaha mencari pendekatan yang mirip dengan peta tersebut.

Buku keempat yaiut buku Zīj al-sindhind ("tabel astronomi”). Buku ini adalah karya yang terdiri dari 37 simbol pada kalkulasi kalender astronomi dan 116 tabel dengan kalenderial, astronomial dan data astrologial sebaik data yang diakui sekarang.
Versi aslinya dalam Bahasa Arab (ditulis 820) hilang, tapi versi lain oleh astronomer Spanyol Maslama al-Majrīṭī (1000) tetap bertahan dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Adelard of Bath (26 Januari 1126). Empat manuskrip lainnya dalam bahasa Latin tetap ada di Bibliothèque publique (Chartres), the Bibliothèque Mazarine (Paris), the Bibliotheca Nacional (Madrid) dan the Bodleian Library (Oxford).

Buku kelima yaitu kalender yahudi. Al-Khawārizmī juga menulis tentang Penanggalan Yahudi (Risāla fi istikhrāj taʾrīkh al-yahūd "Petunjuk Penanggalan Yahudi"). Yang menerangkan 19-tahun siklus interkalasi, hukum yang mengatur pada hari apa dari suatu minggu bulan Tishrī dimulai; memperhitungkan interval antara Era Yahudi(penciptaan Adam) dan era Seleucid ; dan memberikan hukum tentang bujur matahari dan bulan menggunakan Kalender Yahudi. Sama dengan yang ditemukan oleh al-Bīrūnī dan Maimonides.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mu%E1%B8%A5ammad_bin_M%C5%ABs%C4%81_al-Khaw%C4%81rizm%C4%AB

Selasa, 05 Mei 2015

Video ICT

0

ini adalah video penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata matematika banyak kegunaannya. Selamat Menyaksikan ...

KLIK Video ICT

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com